Bandung, Lingkar.news – Pakar Vulkanologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman, menyatakan bahwa fenomena atmosfer acoustic shadow zone (zona bayangan suara) menjadi hipotesis ilmiah yang paling mungkin untuk menjelaskan fenomena dentuman misterius di wilayah Bandung Raya.
Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB tersebut menjelaskan bahwa mekanisme acoustic shadow zone menjadi jawaban teknis mengapa gelombang suara erupsi tidak terdengar di wilayah pesisir yang dekat dengan kawah Selat Sunda, namun justru memantul dan terdengar keras di wilayah pegunungan Jawa Barat yang berjarak ratusan kilometer.
Menurut Mirzam, perbedaan temperatur serta arah dan kecepatan angin pada ketinggian tertentu dapat menyebabkan gelombang suara mengalami pembiasan ke atas (upward refraction). Gelombang ini kemudian melewati zona bayangan sebelum akhirnya kembali terbelokkan ke permukaan tanah di lokasi yang jauh.
“Sebagian energi suara yang bergerak di atas zona bayangan dapat mengalami scattering atau penyebaran akibat turbulensi atmosfer. Dalam kondisi tertentu, gelombang tersebut juga dapat mengalami difraksi sehingga sebagian energinya kembali mencapai permukaan di tempat yang lebih jauh,” ujar Mirzam, Minggu (6/9/2026).
Untuk memastikan apakah dentuman tersebut berkaitan langsung dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau, Mirzam menegaskan pentingnya pembuktian data saintifik yang lebih komprehensif agar tidak terjadi kesimpulan yang prematur.
“Belum tentu. Perlu kajian lebih lanjut untuk memastikan sumbernya. Jadi, dentuman semalam masih menjadi sebuah pertanyaan menarik, bukan sebuah kesimpulan. Kajian lebih mendalam tentu perlu kita lakukan,” ucapnya.
Mirzam menambahkan, tim peneliti saat ini masih perlu melakukan verifikasi data yang melibatkan pencocokan jeda waktu kedatangan gelombang suara, karakteristik sinyal, topografi wilayah, hingga dinamika atmosfer di Jawa bagian barat.
Terkait status Gunung Anak Krakatau yang berada pada Level III (Siaga), ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, meningkatkan literasi bencana, serta mematuhi rekomendasi untuk tidak beraktivitas dalam radius aman 3 kilometer dari kawah aktif.
Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis