JAKARTA, Lingkar.news – Pemerintah menargetkan pengiriman 300 ribu hingga 500 ribu pekerja migran Indonesia (PMI) terampil ke berbagai negara mulai April 2026.
Target tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar usai rapat koordinasi bersama Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin di Jakarta, Selasa (24/2/2026).
“Target ya tentu sebanyak-banyaknya. Minimal 300 ribu sampai 500 ribu pekerja migran. Insyaallah mulai April, Juni, Juli, September siap memberangkatkan tenaga kerja terampil ke berbagai negara,” ujar Muhaimin.
Program SMA/SMK Go Global Jadi Andalan
Pengiriman PMI tersebut merupakan bagian dari Program SMA/SMK Go Global yang bertujuan meningkatkan kualitas lulusan sekolah menengah agar mampu bersaing di pasar kerja internasional.
Program ini merupakan inisiasi Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) bersama Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI).
Melalui program tersebut, lulusan SMA dan SMK dipersiapkan dengan keterampilan khusus agar dapat mengisi kebutuhan tenaga kerja di luar negeri.
Negara Tujuan dan Bidang Pekerjaan
Negara tujuan pengiriman PMI antara lain Jepang, Korea, sejumlah negara di Eropa, Amerika, serta negara lainnya. Bidang pekerjaan yang ditawarkan meliputi welder, hospitality, dan tenaga kesehatan.
Menurut Muhaimin, peluang pasar tenaga kerja di luar negeri sangat besar dengan tawaran gaji tinggi, jaminan sosial, dan perlindungan asuransi yang lebih baik.
“Potensi market-nya sangat besar dan bagus. Gajinya tinggi, jaminan sosial dan asuransinya juga bagus,” katanya.
Prioritaskan Lulusan Minimal SMA/SMK
Pemerintah menegaskan pengiriman PMI difokuskan bagi calon pekerja dengan pendidikan minimal SMA atau SMK.
Kebijakan ini diambil untuk mendorong pekerja migran Indonesia memperoleh pekerjaan berbasis keahlian khusus, bukan pekerjaan domestik berisiko tinggi.
“Kita tidak ingin di bawah SMK atau SMA yang berangkat ke luar negeri. Karena tingkat pendidikan di bawah itu banyak mengandung risiko, terutama menjadi domestic workers,” ujar Muhaimin.
Jurnalis: Ant
Editor: Basuki