Bertemu Yenny Wahid, Prabowo Puji Kepemimpinan Gus Dur

JAKARTA, Lingkar.news – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengakui bahwa, dirinya terkesan dengan kepemimpinan atau leadership Presiden ke-4 Republik Indonesia (RI) K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Saya terkesan dengan contoh dan leadership beliau,” kata Prabowo usai pertemuan dengan putri Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh atau akrab disapa Yenny Wahid di Jalan Kertanegara 4, Jakarta.

Prabowo mengatakan, Gus Dur merupakan sosok dengan pemikiran cemerlang. Menurutnya, Gus Dur memiliki pemikiran yang jauh ke depan.

“Yang saya kenal Gus Dur itu pemikirannya jauh ke depan. Kita sendiri kadang-kadang tidak mengerti apa maksud Gus Dur,” kata Prabowo.

Dia pun menyebut Gus Dur sebagai pribadi yang toleran. Hal itu, kata Prabowo, tampak dari jalinan hubungan Gus Dur dengan berbagai kelompok agama, ras, maupun etnis.

“Kalau saya keliling dunia, yang sangat dikenang di mana-mana adalah antara lain ya Gus Dur. Walaupun beliau presiden sebentar, tapi beliau dikenal karena itu, toleransinya. Beliau pemimpin umat Islam, tapi selalu ‘welcome’, selalu membangun komunikasi sama semua pihak,” kata dia.

Bakal calon presiden 2024 itu pun mengatakan bahwa, dirinya memiliki hubungan yang cukup lama dengan keluarga Gus Dur.

“Sebagaimana kalian ketahui, hubungan saya sudah cukup lama dengan keluarga Gus Dur. Puluhan tahun, sejak saya masih remaja. Sekarang sudah agak remaja kira-kira. Jadi, hubungannya lama sebelum beliau presiden, selama jadi presiden, dan sesudah jadi presiden,” kata Prabowo.

Menteri Pertahanan tersebut turut menyebut hubungannya dengan keluarga Gus Dur tetap terjalin dengan baik hingga kini.

“Hubungannya masih sangat baik dan tentunya kita berhubungan terus, tukar pikiran, tentang masalah-masalah bangsa dan negara, dan umat,” ucap Prabowo.

Pada kesempatan itu, Prabowo menerima kunjungan istri Gus Dur, Sinta Nuriyah dan putrinya Yenny Wahid. Pantauan di lokasi, Yenny datang lebih dahulu pada pukul 17.07 WIB dan disusul oleh Sinta pada pukul 18.00 WIB.

Prabowo mengatakan, kunjungan Sinta Nuriyah sangat mendadak. Ia mengaku mendapat kehormatan untuk menerima kunjungan dari Sinta dan Yenny Wahid.

“Sore hari ini, saya dapat kehormatan kunjungan Mbak Yenny Wahid dan ternyata juga mendadak ibunya hadir untuk menjemput,” kata Prabowo.

Sementara itu, Putri Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh atau akrab disapa Yenny Wahid, menyebut Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memiliki kemampuan dalam memahami dinamika geopolitik.

“Pemimpin yang akan memimpin Indonesia ke depan harus mengerti dinamika geopolitik, orang yang harus punya kemampuan strategic thinking. Nah, saya rasa Pak Prabowo ini punya kemampuan seperti itu,” kata Yenny usai pertemuannya dengan Prabowo itu.  

Oleh sebab itu, Yenny sebagai representasi dari kelompok Gus Dur merasa harus melakukan komunikasi yang intensif dengan Pak Prabowo.

“Wajib bagi saya sebagai representasi dari kelompok Gus Dur berkomunikasi intens dengan Pak Prabowo untuk mendengarkan kebijakan-kebijakan beliau, memberikan aspirasi kita tentang bentuk negara ke depan harus seperti apa,” lanjutnya.

Yenny berpandangan bahwa dinamika geopolitik merupakan salah satu tantangan yang akan dihadapi ke depan sehingga pemimpin Indonesia harus memahami hal tersebut.

“Dalam kerangka dinamika geopolitik yang sedang berkembang saat ini adalah bahwa ada ketegangan-ketegangan di wilayah kita, letak Indonesia yang dekat dengan negara-negara yang punya potensi pertikaian tinggi,” jelasnya.

Yenny juga mengemukakan bahwa setiap zaman membutuhkan karakter pemimpin yang berbeda-beda. Dia mencontohkan ketika masa transisi kemerdekaan, Indonesia membutuhkan sosok Bung Karno yang revolusioner.

“Lalu, Pak Harto, kita butuh pemimpin yang membangun pasca-kemerdekaan. Pak Habibie, beliau memberikan imajinasi tentang negara yang berbasis teknologi. Gus Dur memberikan fondasi demokrasi dan kesetaraan untuk semua keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” paparnya.

Begitu pula ketika Megawati memimpin Indonesia yang dinilai Yenny mampu mengedepankan populisme dalam kebijakan pemerintahannya, serta Susilo Bambang Yudhoyono yang memberikan contoh bahwa jenderal TNI bisa ikut dalam kontestasi demokrasi.

“Kemudian Pak Jokowi. Pak Jokowi ini memulai untuk take off menuju industrialisasi. Nah, pemimpin ke depannya harus meneruskan program-program dari pemimpin-pemimpin sebelumnya,” nilai Yenny.

Ia juga menyebut bahwa banyak kiai dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) yang mempunyai simpati besar kepada bakal calon presiden (capres) Prabowo Subianto.

“Banyak sekali kiai-kiai NU yang punya simpati besar terhadap Pak Prabowo,” jelasnya.

Nama Yenny sendiri disebut-sebut merupakan sosok yang pantas mendampingi Probowo dalam Pemilu 2024 sebagai cawapres. Akan tetapi, Prabowo sendiri belum mengeluarkan statement apa pun akan hal itu. (Lingkar Network | Ant – Koran Lingkar)