TANGERANG, Lingkar.news – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung, Jawa Barat, menyepakati rencana pembangunan Gerbang Keluar (Exit) Tol Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, di ruas Jalan Tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap (Getaci), yang digagas Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bandung, Cakra Amiyana, mengatakan bahwa dalam poin kesimpulan disebutkan bahwa studi kelayakan akan kembali mengkaji trase dan gerbang tol, khususnya segmen Garut Utara hingga Tasikmalaya serta akses Tegalluar.
“Dalam pemutakhiran studi kelayakan akan dikaji kembali trase dan exit tol yang akan dibangun, khusus segmen Garut Utara hingga Tasikmalaya dan akses Tegalluar yang saat ini telah memperoleh izin prinsip dari Direktorat Bina Marga,” katanya, Jumat (13/2/2026).
Posisi Strategis Exit Tol Tegalluar
Cakra menilai Exit Tol Tegalluar memiliki posisi strategis karena berada di kawasan pengembangan transit oriented development (TOD) Stasiun Kereta Cepat Tegalluar seluas 340 hektare.
“Hal ini sesuai dengan misi pembangunan Jalan Tol Getasik yang akan mendukung pengembangan kawasan sekitar, dengan opsi kerja sama bersama pemerintah daerah,” ujarnya.
Progres Proyek dan Skema Kerja Sama
Secara teknis, menurut Cakra, proyek fase pertama Gedebage-Tasikmalaya (Getasik) saat ini memasuki tahap pemutakhiran studi kelayakan dengan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), yang mendapat dukungan Kementerian Keuangan melalui project development facility (PDF).
Sementara itu, progres pembebasan lahan disebut telah mencapai 48,7 persen dan ditargetkan menyentuh 50 persen pada 2026.
Tol Getasik sepanjang 95,5 kilometer dengan estimasi anggaran Rp29,5 triliun tersebut dirancang melintasi sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung, seperti Kecamatan Bojongsoang, Majalaya, dan Nagreg.
Pembangunan juga akan memperhatikan konektivitas dengan jalan yang sudah berdiri, termasuk integrasi dengan proyek Bandung Intra Urban Toll Road (BIUTR).
Selain aspek konektivitas, pemerintah daerah juga menekankan pentingnya memperhatikan aspek lingkungan hidup dalam pelaksanaan proyek.
Proyek strategis nasional ini diharapkan dapat terealisasi sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, sekaligus mendukung pengembangan Kawasan Rebana dan wilayah Jawa Barat bagian selatan serta meningkatkan konektivitas menuju Provinsi Jawa Tengah.
Jurnalis: Ant
Editor: Basuki