Indramayu, Lingkar.news – Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Jawa Barat menerjunkan tim Traffic Accident Analysis (TAA) untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) secara ilmiah guna mengungkap penyebab kecelakaan di Kabupaten Indramayu, Minggu (12/07/2026), yang mengakibatkan 12 orang meninggal dunia.
Kasubbid Penegakan Hukum Ditlantas Polda Jabar, Ajun Komisaris Besar Polisi Jimmy Manurung, mengatakan tim TAA dikerahkan untuk memastikan penyebab kecelakaan melalui proses penyelidikan berbasis analisis ilmiah maupun digital.
TAA hadir di sini untuk melaksanakan olah TKP secara digital dan ilmiah untuk bisa mengungkap kira-kira apa penyebab dari kecelakaan tersebut, ujarnya.
Ia menjelaskan, kecelakaan di Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Indramayu, melibatkan tiga kendaraan, yakni mobil pikap dan dua truk. Berdasarkan penyelidikan sementara, mobil pikap sempat berhenti di lajur kanan untuk berputar arah, lalu ditabrak dari belakang oleh truk Hino boks hingga terdorong ke jalur berlawanan dan menghantam truk lain. Peristiwa ini merenggut 12 nyawa, di mana tiga orang meninggal di lokasi dan sembilan lainnya saat perawatan, serta enam orang lainnya mengalami luka ringan.
Selain korban meninggal, enam orang lainnya mengalami luka ringan dan hingga kini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Mitra Plumbon, katanya.
Polisi saat ini telah memeriksa empat saksi, terdiri dari dua pengemudi kendaraan yang terlibat dan dua saksi mata. Meski demikian, penyidik belum menetapkan tersangka karena proses olah TKP dan gelar perkara masih berlangsung.
Sampai saat ini kami masih melakukan olah TKP. Untuk tersangka, nanti akan kami sampaikan setelah adanya gelar perkara di polres, tegasnya.
Pihaknya menyimpulkan bahwa penggunaan pikap untuk angkutan penumpang merupakan pelanggaran aturan yang berisiko fatal, sehingga masyarakat diimbau untuk mematuhi regulasi lalu lintas demi keselamatan bersama.
Sesuai Pasal 137 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, kendaraan pikap dilarang mengangkut manusia. Tingkat fatalitasnya sangat tinggi, pungkasnya.
Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis
