LINGKAR JABAR

Kisah Siswa Kampung Sadang Bertaruh Nyawa Seberangi Waduk Demi ke Sekolah

Bandung, Lingkar.news – Sejumlah anak di Kampung Sadang, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, harus menantang bahaya dengan menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit bambu setiap pagi untuk menuju sekolah.

Aktivitas ini telah berlangsung sejak lama lantaran ketiadaan jembatan yang menghubungkan permukiman mereka dengan lokasi sekolah di SDN Budiharja, Kampung Gombong. Sebanyak 16 siswa saat ini bergantung pada rakit tersebut sebagai akses utama untuk mengenyam pendidikan.

Kepala SD Negeri Budiharja, Taufik, menjelaskan bahwa akses darat menuju sekolah memakan jarak tempuh hingga empat kilometer atau sekitar 30 menit perjalanan kaki. Mengingat siswa harus tiba di sekolah pukul 06.30 WIB, ia berharap pemerintah dapat membangun jembatan agar akses pendidikan menjadi lebih efisien dan aman.

“Makanya untuk mempersingkat perjalanan anak-anak tersebut dan semangat untuk sekolah itu mungkin, saya mohon ada jembatan penyeberangan supaya sampai dari sana ke sini 10 menit juga atau 5 menit. Itu sangat diperlukanlah jembatannya,” ujar Taufik.

Terkait urgensi akses, pihak sekolah menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar masalah jarak tempuh, melainkan menyangkut kenyamanan dan perlindungan hak akses pendidikan bagi anak-anak di Kampung Sadang.

Santi Nur Setiani, salah satu orang tua siswa, mengungkapkan bahwa ketergantungan pada rakit seringkali menimbulkan kekhawatiran mendalam, terutama saat cuaca buruk atau kondisi perairan yang dipenuhi eceng gondok.

“Tidak ada transportasi yang lain,” kata Santi.

“Takutnya terpleset. Kalau musim hujan, dia suka main-main, bercanda sama teman-temannya kalau naik rakit,” tambah Santi.

Ketua RT 05, Agus Sumpena, menuturkan bahwa penggunaan rakit sudah menjadi tradisi warga sejak tahun 1990. Karena rakit bambu memiliki masa pakai terbatas selama dua hingga tiga tahun, warga kerap melakukan swadaya untuk membangun rakit baru demi keberlangsungan akses pendidikan anak-anak mereka.

“Ini dari penyeberangan anak sekolah, khususnya dari tahun 90. Kalau dulu dari orang tua masing-masing, kemudian diadakan oleh kepala sekolah, dibuat rakit umum khusus untuk penyeberangan anak sekolah,” kata Agus.

“Kadang-kadang dua-tiga tahun sudah rusak, ganti lagi. Kadang-kadang swadaya bikin. Ini beli bambu, swadaya bikin rakit buat penyeberangan anak sekolah,” ujar Agus.

Terkait harapan masyarakat akan adanya jembatan, Agus menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur tersebut tidak hanya vital bagi siswa, tetapi juga menunjang mobilitas warga untuk bertani dan beraktivitas ekonomi di seberang waduk.

“Harapan warga memang dari dulu kalau dibikin jembatan, kalau dibikin jembatan ini enaklah buat penyeberangan, khususnya anak sekolah,” ungkap Agus.

Perjuangan siswa ini kini mendapat perhatian pemerintah setelah video penyeberangan mereka viral di media sosial. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan bahwa tim Dinas PUPR Provinsi Jawa Barat akan segera meninjau lokasi untuk mengkaji potensi pembangunan jembatan penyeberangan di wilayah tersebut.

Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis

Exit mobile version