Bandung, Lingkar.news – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat melaporkan eskalasi bencana kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) yang melanda wilayah tersebut hingga Sabtu, (12/09/2026). Data terbaru menunjukkan akumulasi lahan yang hangus terbakar telah mencapai 325,87 hektare di 121 kecamatan, sementara krisis air bersih akibat kekeringan ekstrem kini telah berdampak pada 215.424 kepala keluarga (KK).
Kondisi kekeringan dilaporkan merambah hingga 205 kecamatan di Jawa Barat. Untuk mengatasi dampak yang semakin meluas, BPBD Jabar bersinergi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mendistribusikan bantuan air bersih sebanyak 17,69 juta liter ke pemukiman warga terdampak.
Data dari BPBD Jabar mengonfirmasi bahwa sebaran kebakaran lahan terluas berada di wilayah Kabupaten Majalengka, Sukabumi, Subang, Sumedang, Bandung, Kuningan, Cirebon, hingga Pangandaran. Salah satu titik karhutla paling kritis melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Blok Cileutik, Desa Singkup, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, sejak Senin (07/09/2026) dengan luas lahan terbakar mencapai 40 hektare.
Upaya pemadaman di area TNGC tersebut dilakukan secara manual dan memanfaatkan jetshooter oleh tim gabungan yang terdiri atas petugas TNGC, BPBD Kuningan, TNI, Polri, serta aparatur wilayah setempat. Meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, BPBD Jabar mendesak adanya penambahan personel, peralatan pemadam karhutla, serta dukungan logistik yang memadai di lapangan.
Pemerintah daerah bersama BNPB terus berkoordinasi secara intensif untuk mengendalikan titik api di kawasan pegunungan serta mempercepat distribusi bantuan logistik air bersih guna meminimalkan dampak kekeringan yang dirasakan masyarakat.
“Hingga 8 September 2026 tercatat sebanyak 193 kejadian kebakaran lahan dan hutan di 121 kecamatan, dengan total luas lahan terbakar mencapai 325,87 hektare,” kata Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar Hadi Rahmat Hardjasasmita di Bandung, Sabtu (12/9/2026)
“Kondisi terkini pada Rabu (9/9/2026) menunjukkan tim gabungan masih melakukan pemadaman, penyekatan, dan pendinginan. Sementara pada pukul 20.00 WIB titik api sudah tidak terlihat meski penyekatan dan pendinginan masih terus dilakukan,” ujar Berton.
Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis
