Bandung, Lingkar.news – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan Jawa Barat pada Oktober 2026 sebesar 0,2 persen. Kenaikan harga cabai dan tomat menjadi pemicu inflasi yang masih berada dalam rentang sasaran terkendali.
Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati di Bandung, Jabar, Senin (2/11/2026), mengatakan inflasi tahun berjalan (year-to-date/ytd) mencapai 2,31 persen. Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) tercatat sebesar 2,90 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,69.
Ari menjelaskan, meski mengalami sedikit kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya, capaian inflasi tersebut masih berada dalam rentang sasaran yang terkendali.
Harga Cabai dan Tomat Naik akibat Keterbatasan Pasokan
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan Jawa Barat. Kenaikan harga pada kelompok ini didominasi komoditas cabai rawit, cabai merah, dan tomat.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang andil inflasi terbesar pada bulan ini, yakni sebesar 0,12 persen dengan inflasi kelompok mencapai 0,41 persen,” katanya.
“Kenaikan harga cabai dan tomat ini dipicu oleh keterbatasan pasokan akibat dampak musim kemarau panjang serta serangan hama patek pada tanaman hortikultura,” ucap dia.
Meski demikian, sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga membantu meredam laju inflasi secara keseluruhan.
“Di sisi lain, laju inflasi diredam oleh penurunan harga daging ayam ras dan telur ayam ras akibat pasokan yang melimpah, serta emas perhiasan yang mengekor tren penurunan harga emas di pasar global. Sementara, harga beras yang sempat menjadi momok inflasi dalam beberapa bulan sebelumnya, kini mulai menunjukkan tren penurunan pada Oktober 2026,” kata Ari.
Inflasi Tahunan Tertinggi di Kota Cirebon
Secara spasial, pemantauan IHK di 10 kabupaten/kota menunjukkan inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kota Cirebon sebesar 3,02 persen dengan IHK 110,89. Inflasi tahunan terendah tercatat di Kabupaten Majalengka sebesar 2,62 persen dengan IHK 112,61.
Pada basis bulanan (month-to-month/mtm), Kota Bogor mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,35 persen. Sementara itu, Kota Bandung mencatat inflasi terendah sebesar 0,08 persen.
Ari merinci, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menyumbang andil inflasi tahunan terbesar, yakni 1,23 persen. Berikutnya adalah kelompok transportasi sebesar 0,45 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,37 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,27 persen.
BPS Jabar berharap Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jawa Barat terus siaga mengantisipasi potensi lonjakan permintaan menjelang libur akhir tahun. Kesiagaan tersebut terutama diperlukan untuk meredam tekanan harga hortikultura di tengah masa transisi musim.
Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis
