Bandung, Lingkar.news – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Jawa Barat, melakukan penguatan mitigasi potensi pergerakan tanah dengan mencegah kerusakan vegetasi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi risiko bencana geologi yang meningkat saat curah hujan kembali tinggi.
Analis Kebencanaan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung, Ridwan Maulana, menjelaskan bahwa hilangnya vegetasi akibat karhutla secara signifikan menurunkan kemampuan tanah dalam menyerap air.
“Kalau area-area yang terbakar, vegetasinya yang awalnya rimbun menjadi hilang. Ketika musim hujan datang, infiltrasinya kurang, run-off-nya tinggi, otomatis akan menimbulkan risiko longsor yang lebih tinggi,” kata Ridwan.
Ridwan menekankan bahwa fenomena tersebut menjadi prioritas antisipasi selama musim kemarau, mengingat Kabupaten Bandung memiliki banyak wilayah perbukitan dan lereng yang rentan terhadap pergerakan tanah.
Menurut Ridwan, pergerakan tanah dikategorikan sebagai bencana geologi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi lingkungan di wilayah tropis yang memiliki tingkat pelapukan tinggi.
“Setiap bulan PVMBG mengeluarkan peta gerakan tanah. Jadi untuk gerakan tanah sendiri sebenarnya masuk kategori bencana geologi,” ujarnya.
Merujuk pada Peta Potensi Gerakan Tanah Kabupaten Bandung Agustus 2026 yang dirilis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), terdapat sejumlah kecamatan dengan potensi gerakan tanah kategori menengah hingga tinggi, seperti Arjasari, Baleendah, Banjaran, Cicalengka, Cikancung, Cilengkrang, Cimaung, Cimenyan, Ibun, Ciwidey, Kertasari, Kutawaringin, Pangalengan, Paseh, Pasirjambu, dan Rancabali. Beberapa di antaranya bahkan berpotensi mengalami banjir bandang.
Sebagai langkah strategis, BPBD menekankan pentingnya sinergi antara mitigasi non-struktural melalui penyebaran informasi kepada masyarakat dengan mitigasi struktural yang dikelola oleh dinas teknis terkait seperti PUTR dan Perkimtan.
“Kalau BPBD lebih ke mitigasinya yang non-struktural. Kalau yang struktural itu ada di dinas-dinas teknis, seperti PUTR, Perkimtan, dan kewilayahan,” jelasnya.
Selain penyebarluasan informasi rutin melalui edaran, BPBD Kabupaten Bandung terus mengevaluasi jalur evakuasi di daerah rawan bencana seperti Kecamatan Cilengkrang dan Cimenyan. Masyarakat diimbau untuk selalu mengenali titik kumpul sementara yang aman guna meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat.
Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis
