GARUT, Lingkar.news – Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Garut, Jawa Barat, menargetkan pencetakan 100 hektare lahan sawah baru pada 2026 guna meningkatkan produktivitas padi dan mendukung program swasembada pangan nasional.
Kepala Dispertan Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, mengatakan hingga saat ini baru sekitar 20 hektare lahan yang telah selesai diverifikasi untuk dijadikan sawah baru.
“Target itu 100 hektare, tapi sampai saat ini yang sudah diverifikasi 20 hektare,” kata Ardhy di Garut, Jumat (15/5/2026).
Ia menjelaskan, luas lahan sawah di Kabupaten Garut saat ini diperkirakan mencapai 46.725 hektare yang terus dijaga agar tetap produktif.
Menurut Ardhy, pemerintah daerah kini fokus memperluas lahan pertanian dengan mengoptimalkan lahan yang sebelumnya belum dikelola maksimal menjadi area persawahan produktif.
Namun, upaya tersebut menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait ketersediaan sumber air.
“Dari target itu cenderung agak sulit, dan sampai saat ini baru ada 20 hektare di Kecamatan Banjarwangi,” ujarnya.
Dispertan Garut melakukan berbagai kajian sebelum menetapkan lokasi sawah baru. Di Kecamatan Banjarwangi, misalnya, lahan darat disiapkan menjadi area persawahan dengan dukungan sistem pengairan yang memadai.
Ardhy menegaskan, indikator utama dalam pencetakan sawah baru adalah ketersediaan sumber air agar lahan tetap produktif dan mampu menghasilkan panen hingga tiga kali dalam setahun.
Menurutnya, sejumlah wilayah di Garut bagian utara, tengah, hingga selatan memiliki potensi besar untuk pengembangan sawah baru selama jaringan irigasi berjalan optimal.
“Salah satu indikator menentukan satu titik ya itu harus ada air, sisanya 80 hektarenya ini masih dicari, mudah-mudahan bisa di akhir tahun,” katanya.
Ia berharap sawah baru di Kecamatan Banjarwangi nantinya mampu menghasilkan sekitar 300 ton padi dari tiga kali musim panen.
Jika target pencetakan sawah baru tercapai, produksi padi Kabupaten Garut diperkirakan meningkat signifikan. Tahun ini, Garut menargetkan produksi padi mencapai 631.490 ton gabah kering giling (GKG).
“Lahan yang potensial di kita banyak daerah tengah, juga bisa dimaksimalkan, sepanjang irigasinya itu bagus,” tutup Ardhy.
Jurnalis: Ant
Editor: Basuki
