Bogor, Lingkar.news – IPB University melalui Center for Tropical Animal Studies (Centras) mengembangkan model bisnis maggot inovatif berkonsep plasma-inti. Langkah ini dilakukan melalui Lembaga Riset Internasional Pangan, Gizi, Kesehatan dan Halal (LRI PGKH) untuk mengolah sampah organik menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dalam kerangka program Sinergi 2026.
Model bisnis ini dirancang untuk mempermudah para mitra dalam membudidayakan maggot tanpa harus terbebani oleh seluruh rantai produksi dari hulu ke hilir. Mitra yang bergabung sebagai plasma tidak perlu menetaskan telur atau menghasilkan telur kembali, melainkan cukup fokus pada satu fase pemeliharaan saja agar proses produksi menjadi lebih efisien.
Sebagai bagian dari realisasi program Sinergi 2026, IPB University telah mensosialisasikan skema bisnis ini serta menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS). Selain itu, pihak akademisi juga memberikan dukungan teknologi berupa peminjaman mesin pengering maggot guna mengatasi kendala cuaca dan menekan biaya investasi awal yang tinggi bagi para mitra.
Program ini juga menekankan pentingnya kehadiran pembeli siaga (off-taker) demi menjamin kepastian pasar bagi para peternak plasma. Hubungan kerja sama ini dibangun di atas landasan kepercayaan mutual antara pihak inti dan plasma yang melibatkan lima wilayah uji coba dengan karakteristik potensi bahan baku yang berbeda, yaitu Jakarta, Bintaro, Tenjolaya, IPB University, dan Depok.
Secara keseluruhan, pengembangan model plasma-inti ini diharapkan mampu mengatasi hambatan teknologi pengeringan dan rantai pasok, sekaligus menciptakan ekosistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang berkelanjutan, terintegrasi, dan mudah direplikasi di wilayah lain.
“Plasma dapat berfokus pada pembesaran maggot, sementara tahapan lainnya dilakukan oleh pihak yang memiliki peran masing-masing,” kata Nahrowi, Minggu (20/9/2026).
“Model ini diharapkan dapat menjadi percontohan yang nantinya dikembangkan lebih luas,” sebut Prof Nahrowi.
Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis