LINGKAR JABAR

Dedi Mulyadi: Kirab Mahkota Binokasih Hubungkan Sejarah dan Masa Depan Jabar

CIREBON, Lingkar.news Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi menyebut Kirab Budaya Mahkota Binokasih Napak Tilas Pajajaran yang digelar di Kota Cirebon menjadi upaya menghubungkan sejarah masa lalu dengan pembangunan masa depan.

“Yang paling utama bukan untuk membangun cerita masa lalu, tetapi membangun jembatan masa lalu dan masa depan,” kata Dedi saat memberikan sambutan di Alun-alun Sangkala Buana Keraton Kasepuhan, Minggu (10/5/2026) malam.

Menurutnya, masyarakat tidak bisa hanya berbicara mengenai masa depan tanpa memahami sejarah dan filosofi budaya yang diwariskan para leluhur.

Dedi mengatakan sejarah menjadi bagian penting dalam membangun karakter bangsa sekaligus menghadapi tantangan zaman.

“Maka kegiatan ini bukan kegiatan seremonial, bukan kegiatan historikal tapi kegiatan masa depan,” ujarnya.

Ia menilai Jawa Barat memiliki kekayaan budaya yang masih terlihat melalui keberadaan keraton, tradisi masyarakat, hingga peninggalan sejarah Pajajaran.

Dedi menekankan Mahkota Binokasih dan sejumlah situs sejarah menjadi bukti bahwa Pajajaran merupakan bagian dari fakta sejarah yang tetap hidup hingga saat ini.

“Pajajaran itu memang ada dan tidak akan pernah pudar dimakan oleh zaman,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Dedi juga menyampaikan bahwa Cirebon menjadi daerah yang mampu memadukan nilai agama, budaya, dan sejarah secara harmonis.

Menurutnya, kehidupan masyarakat di Cirebon mencerminkan keterbukaan budaya yang diwariskan para wali dan keraton sejak masa lampau.

Ia menyebut sejumlah warisan budaya dan tradisi keagamaan di Cirebon masih bertahan hingga kini, seperti Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan tradisi Azan Pitu.

“Cirebon sesungguhnya adalah mini pluralisme Indonesia. Kalau dalam bahasanya para pakar, Cirebon mengajarkan tentang Islam inklusif,” ujarnya.

Ke depan, Dedi mengaku telah menyiapkan rencana penataan kawasan budaya di sekitar Keraton Cirebon agar lebih bersih, tertata, dan memiliki daya tarik wisata sejarah.

“Kalau keraton ini tertata rapi, jalan-jalannya bersih, trotoarnya terbentang indah, sungai-sungainya jernih, kemudian antara sungai dengan keraton tersambung lagi dengan laut maka peradaban akan terbangun,” tuturnya.

Jurnalis: Ant
Editor: Basuki

Exit mobile version