Bandung Bangun TPOS Gedebage, Mampu Olah Sampah 300 Ton per Hari

Bandung, Lingkar.news – Pemerintah Kota Bandung menargetkan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Organik dan Sirkular (TPOS) di Gedebage rampung pada 2027 dengan kapasitas pengolahan mencapai 300 ton sampah per hari. Pembangunan fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Pemkot Bandung dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan bahwa pembangunan fasilitas tersebut menggunakan teknologi baru setelah melalui survei kelayakan lokasi di kawasan Gedebage.

“Dalam hal ini, kami akan membangun satu fasilitas pengolahan sampah dengan menggunakan sebuah teknologi yang baru,” ujar Farhan, pada Minggu (23/8/2026)

Farhan menjelaskan bahwa langkah ini diambil mengingat Kota Bandung merupakan satu-satunya ibu kota provinsi yang tidak memiliki Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sendiri, sehingga sangat bergantung pada TPA Sarimukti maupun rencana TPA Legok Nangka.

“Terus terang Kota Bandung itu satu-satunya ibu kota provinsi yang tidak punya TPA. Jadi kami sangat tergantung kepada TPA-TPA yang dibangun oleh provinsi, baik yang di Sarimukti maupun yang sekarang sedang dibangun di Legok Nangka,” katanya.

Sebagai solusi transisi sembari menunggu operasional TPA Legok Nangka, Pemkot Bandung melakukan terobosan pembangunan fasilitas pengolahan sampah mandiri untuk menanggulangi tumpukan sampah di wilayahnya.

“Waktu itu, Pak Gubernur memberikan pekerjaan rumah. Sambil menunggu tiga tahun Legok Nangka jadi, kalian bisa bikin apa? Nah, ini salah satu terobosan yang kami lakukan,” ujarnya.

Pihaknya menargetkan percepatan pengerjaan agar TPOS Gedebage sudah bisa beroperasi mulai akhir 2026 atau awal 2027.

Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara, Sigit Puji Santosa, menambahkan bahwa teknologi yang diterapkan mengusung konsep desentralisasi agar sampah dapat dikelola di tingkat regional tanpa harus selalu dikirim ke TPA.

“Ini adalah solusi yang kita sebut desentralisasi. Artinya tidak perlu dibawa ke TPA, tempat penimbunan akhir, tapi kita selesaikan di regional masing-masing,” kata Sigit.

Sigit menjelaskan bahwa sampah akan diolah menjadi Solid Recovered Fuel (SRF), yakni material bernilai kalor tinggi yang berguna bagi industri sebagai bahan bakar boiler atau pabrik. Selain itu, aspek lingkungan menjadi prioritas dalam penerapan teknologi ini.

“Kita pastikan teknologi yang kita pilih adalah teknologi yang ter-contained dan ter-capture sehingga tidak ada bau yang mengganggu lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Pewarta: Rara
Editor: Saiful Muhlis