Kupang – Di balik kemajuan banyak desa di Nusa Tenggara Timur (NTT), terdapat sosok-sosok yang bekerja tanpa banyak sorotan, mengabdikan hidupnya untuk memastikan pembangunan benar-benar dirasakan hingga ke pelosok. Salah satunya adalah Kandidatus Angge, seorang pejuang pemberdayaan masyarakat yang telah mengabdikan lebih dari seperempat abad hidupnya untuk mendampingi desa dan memperkuat kemandirian masyarakat.
Kandidatus Angge lahir di Desa Holokoli pada 26 Oktober 1967. Sejak muda, ia memiliki ketertarikan besar terhadap dunia pertanian, yang menjadi denyut kehidupan masyarakat pedesaan di Nusa Tenggara Timur. Semangat tersebut membawanya menempuh pendidikan tinggi di Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, dan berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1992.
Bekal akademik itu tidak membuatnya memilih jalur karier yang nyaman di balik meja. Sebaliknya, Angge memutuskan turun langsung ke lapangan, hidup bersama masyarakat desa, memahami persoalan mereka, sekaligus mencari solusi yang mampu mengubah kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.

Perjalanan panjang pengabdiannya dimulai ketika bergabung dalam Program Pengembangan Kecamatan (PPK) pada periode 1998–1999. Program tersebut menjadi tonggak awal kiprahnya dalam dunia pemberdayaan masyarakat. Di tengah berbagai tantangan, ia belajar bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, tetapi juga tentang membangun kepercayaan, meningkatkan kapasitas masyarakat, dan menumbuhkan semangat gotong royong.
Dedikasinya terus berlanjut dalam berbagai program nasional pemberdayaan. Pengalaman panjang tersebut mengantarkannya menjadi bagian dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), sebuah program yang dikenal luas sebagai salah satu gerakan pemberdayaan masyarakat terbesar di Indonesia. Dalam setiap penugasannya, Angge dikenal sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat, mampu membangun komunikasi yang baik, serta konsisten mendorong partisipasi warga dalam setiap proses pembangunan desa.
Ketika pemerintah meluncurkan Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD), Kandidatus Angge kembali dipercaya mengemban amanah yang lebih besar. Sejak 2016 hingga 2023, ia menjabat sebagai Koordinator Provinsi P3MD Nusa Tenggara Timur. Posisi tersebut bukan sekadar jabatan administratif, tetapi sebuah tanggung jawab besar untuk mengawal implementasi Undang-Undang Desa di seluruh wilayah NTT yang memiliki karakter geografis dan sosial yang sangat beragam.
Selama memimpin pendampingan desa di tingkat provinsi, Angge menjadi motor penggerak bagi ratusan tenaga pendamping desa dalam memperkuat tata kelola pemerintahan desa, meningkatkan kapasitas aparatur desa, mengembangkan potensi ekonomi lokal, serta memastikan dana desa benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di bawah kepemimpinannya, semangat pemberdayaan terus tumbuh. Baginya, desa bukanlah objek pembangunan, melainkan subjek yang memiliki potensi besar untuk berkembang apabila diberi ruang, pendampingan, dan kepercayaan. Filosofi inilah yang membuatnya dihormati oleh banyak pendamping desa maupun pemerintah daerah.
Meski masa jabatannya sebagai Koordinator Provinsi telah berakhir pada tahun 2023, semangat pengabdian Kandidatus Angge tidak pernah surut. Hingga kini ia tetap aktif mendampingi masyarakat desa, berbagi pengalaman, memberikan motivasi, dan terlibat dalam berbagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Baginya, pengabdian kepada desa bukanlah pekerjaan yang mengenal batas waktu, melainkan panggilan hidup yang harus terus dijalankan.
Rekam jejak panjang yang dimiliki Kandidatus Angge membuktikan bahwa pembangunan desa membutuhkan figur-figur yang tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga ketulusan hati. Selama puluhan tahun, ia telah menjadi saksi sekaligus pelaku perubahan di berbagai pelosok Nusa Tenggara Timur, menghubungkan kebijakan pemerintah dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Kisah hidup Kandidatus Angge menjadi inspirasi bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Dengan dedikasi, integritas, dan kecintaannya terhadap masyarakat desa, ia telah meninggalkan jejak pengabdian yang akan terus dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan pembangunan dan pemberdayaan desa di Nusa Tenggara Timur.