LINGKAR JABAR

Serap Panen Raya 2026, Bulog Siapkan Kapasitas Gudang 2,1 Juta Ton

JAKARTA, Lingkar.news Perum Bulog memastikan kapasitas ruang gudang yang tersedia mencapai sekitar 2,1 juta ton untuk mendukung penyerapan beras menjelang panen raya 2026, seiring meningkatnya target penyerapan beras tahun ini.

Kapasitas Gudang Kosong Bulog 2,1 Juta Ton

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan saat ini ruang gudang kosong Bulog sekitar 900 ribu ton, ditambah gudang cadangan dengan kapasitas sekitar 1,2 juta ton.

“Kalau dihitung dengan kapasitas gudang yang kosong 900 ribu ton, ditambah dengan 1,2 juta ton, jadi sudah mencapai 2,1 juta ton. Jadi kapasitas ini sudah aman sebetulnya,” ujar Rizal dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Bulog saat ini mengelola 1.586 gudang milik sendiri dan lebih dari 100 gudang sewa yang tersebar di berbagai wilayah. Meski begitu, Bulog tetap memerintahkan jajaran wilayah dan cabang untuk mencari tambahan kapasitas gudang guna mengantisipasi arus masuk beras pada 2026.

“Ruang simpan ini akan digunakan untuk menampung penyerapan beras hingga target 4 juta ton pada 2026, sementara stok beras yang tersimpan di gudang saat ini masih sekitar 3,2 juta ton,” tambah Rizal.

Bulog juga mendorong pencarian tambahan kapasitas gudang sekitar 2 juta ton, terutama untuk mengantisipasi kebutuhan penyimpanan pada semester II 2026, saat puncak penyerapan berlangsung.

Distribusi Minyakita melalui Skema DMO

Selain kesiapan gudang, Bulog juga menyampaikan perkembangan distribusi Minyakita melalui skema Domestic Market Obligation (DMO).

Rizal menjelaskan, porsi DMO yang ditetapkan pemerintah sebesar 35 persen dari total alokasi, dengan Bulog dipercaya mengelola 70 persen dari porsi tersebut sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

“Minyak goreng memang kita diberikan DMO dari pemerintah sebesar 35 persen dari total alokasi. Untuk pembagiannya, Bulog dipercayakan mengelola 70 persen dari porsi tersebut,” ungkap Rizal.

Direktur Pemasaran Perum Bulog, Febby Novita, menambahkan, dari alokasi DMO tersebut, Bulog baru memperoleh 36 ribu ton, sementara estimasi total DMO sekitar 60 ribu ton per bulan atau 700 ribu ton per tahun.

Distribusi Minyakita dilakukan langsung ke pengecer sesuai ketentuan Kementerian Perdagangan, sehingga Bulog tidak lagi menyalurkan ke distributor tingkat dua (D2).

Dalam skema tersebut, Bulog membeli Minyakita dari produsen seharga Rp13.500 per liter dan menjual ke pengecer Rp14.500 per liter, menutup biaya distribusi dan logistik. Harga konsumen akhir tetap mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter.

Febby menegaskan, pengawasan distribusi dilakukan bersama Satgas Pangan agar harga penjualan ke konsumen tidak melampaui HET.

“Kami juga selalu mengingatkan pengecer agar menjual sesuai HET, yaitu Rp15.700 per liter,” tuturnya.

Jurnalis: Ant
Editor: Basuki

Exit mobile version